.

Ada banyak pertanyaan manusia di dunia ini yang sudah dijawab oleh alam sebelum mereka kembali kepada alam, sekarang tergantung hati manusia, menerima jawaban itu atau menolaknya. Kamu adalah salah satu pertanyaanku sekaligus jawaban itu sendiri.

Entah sudah berapa lama aku berdiri sembari menggerakkan sayapku di dahan ini. Rasanya melelahkan, namun debaran di jantung kecilku yang entah kenapa sedari tadi berdebar seperti menyalurkan tenaga tambahan untuk tetap menguatkan kaki mungilku berdiri di atas dahan berduri ini.

Aku kenal betul dengan dahan duri yang kuinjak saat ini. Aku mengenalnya saat dahan ini masih kurus, kering dan tertancap pada tanah tandus. Hingga akhirnya jemari lentik seorang gadis kecil mencabut dan memindahkannya di dalam pot plastik berwarna hitam yang berisi tanah gembur nan subur.

Luar biasa, tidak butuh waktu lebih dari seminggu akhirnya dahan duri itu menumbuhkan dahan-dahan dan duri muda yang lain, bahkan tanpa aku tahu sebelumnya muncul lah kuncup di ujung dahan. Mula-mula kuncup itu terbalut oleh daun, namun dengan sentuhan hangat cahaya dan rinai hujan membuat kuncup itu semakin jemawa dan bebas. Lahirlah kelopak merah yang sangat indah dan semakin mekar setiap harinya.

Entah sudah berapa hari aku selalu singgah di dahan ini atau sesekali bermain menggoda kelopak mawar dan tanpa sengaja menjatuhkan satu kelopak yang tampaknya mulai layu.

“ Wah sepertinya kau mulai menyukai mawar itu, ya?”

Tiba-tiba dari dahan yang lain sudah hinggap kupu-kupu cantik berwarna hampir keseluruhan berwarna biru namun terdapat warna hitam dan bebintik putih di pinggirnya.

“ Kau siapa?”
“Aku? Blue Morpho, jenis kupu-kupu paling cantik di dunia, mau menjemputmu.”
“ kemana?”
“ Kembali, ke tempat dimana kau seharusnya tinggal.”
“ Ada apa? Aku suka disini.”
“ Jelas, kau akan suka tinggal disini.”
“ Baru beberapa hari aku disini, tapi kenapa sudah ada yang menjemput?
“ IPK kuliahmu dulu berapa?”
“ 3,88.”
“ Haha ternyata tingginya IPK tidak menjamin luasnya wawasan seseorang.”
Aku mulai tersinggung.
“ Hey! ayolah. Tidak perlu tersinggung. Kau pasti tidak tahu kan? Kalau kupu-kupu itu adalah makhluk bisu dan berumur pendek. Dan hari ini aku datang karena ini adalah hari terakhirmu yang bisa seenaknya saja menjatuhkan kelopak mawar milik gadis kecil itu.”

Blue Morpho mengarahkan pandangannya ke arah kanan menunjuk gadis kecil yang berjalan ke arah sekumpulan bunga-bunga, jemari lentiknya mengorek tanah tanpa takut kotor.

Aku diam.

“ Manusia itu makhluk yang sulit dipahami, keras di kepala tapi lemah di hati. Sudah diberi jalan lurus namun masih juga mencari jalan sendiri, apa kau tau? Seberapa bingungnya kami melihat kalian?”
“ Iya, aku juga bingung kenapa harus manusia yang dikaruniai perasaan,” ucapku sambil melirik Blue Morpho
“ Kau menyindirku, ya!”
“Tidak! Aku hanya mengutarakan apa yang ada di kepala kerasku ini ”
“ Baiklah, tidak perlu berdebat tentang hal ini. Sebelum aku membawamu pergi. Kau boleh bertanya apa saja padaku. Ingat,hanya satu pertanyaan.”

Aku terdiam sejenak. Jujur saja aku tidak tahu mau menanyakan apa. Apa aku harus menanyakan sekarang indomie sudah ada rasa baru apa?

“ Em.. kenapa Tuhan memberiku kesempatan hidup kembali menjadi seekor kupu-kupu?”
“ Pertanyaan yang mudah ditebak,” Blue Morpho terbang pelan dan hinggap ke dahan yang sama denganku.
“ Kau tau kenapa kupu-kupu memiliki usia yang pendek?”
“ Tidak”
“ Haha jelas kau tidak tahu, kenapa juga aku menanyakan pertanyaan itu padamu” ujarnya sinis.

Andai aku masih berwujud manusia mungkin sudah kupukul kupu-kupu biru ini dengan jaring.

“ Tuhan ingin mengingatkan, bahwa cantik itu tidak ada yang lama. Akan mudah hilang, namun hati yang baik lah yang mengabadikan kecantikan rupa itu sendiri. Kau disini dan menjelma bentuk ini adalah jawaban untuk pertanyaanmu sendiri.”

Aku mencoba mengingat-ingat pertanyaan macam apa yang pernah aku tanyakan pada Tuhan? Sepertinya aku tidak pernah menanyakan, bolehkah aku hidup menjadi kupu-kupu, Tuhan?

“ Apa kau ingat harapan apa yang kau ucapkan saat tanggal empat Mei tahun 2019? Dan pertanyaan apa yang kau tanyakan selepas kau kirim ucapan hari raya padanya?”

Aku mengingat kembali tujuh belas tahun yang lalu. Dan seberapa kuat mencoba mengingat aku malah semakin tidak ingat.

“ Kau mencoba tulus berharap demi kebaikan hidup seseorang. Seseorang yang selalu kau mimpikan waktu itu. Bahkan dalam mimpi pun kau tetap terdiam saat melihat senyum gingsulnya, dan kau bertanya dalam doamu. Bisakah kau mengikhlaskannya.”

Aku ingat.

Rasa itu.

Rindu itu.

Aku mengingatnya rasa dan rindu yang tidak pernah kurasakan lagi beberapa tahun belakangan ini.

“ Waktu itu aku melihatmu tersenyum hanya karena melihatnya tersenyum. Dan setiap kali kau melihat senyumnya, kau selalu mendoakan kebaikan untuknya. Kau selalu mendengarkan rekaman suaranya yang bahkan sampai kau ingat dimana dia berhenti menarik nafas saat bernyanyi. Aku berpikir, betapa menyedihkannya manusia sepertimu. Sudah dilupakan namun terjebak sendiri selalu teringatkan.”

Blue Morpho menghela nafas.

“ Tapi hebatnya. Kau mengubah pemikiranku, kau terus bertahan mendoakannya hingga sampai hafalan qur’anmu yang membuat kau melupakannya. Meski dia tidak menganggapmu ada, tapi caramu meng-ada kan Tuhan lah yang membuatmu mendapat balasan rasa yang lebih kuasa dari wanita bergingsul itu.”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Sesak yang dulu kukira telah hilang namun nyatanya terpendam bahkan sampai aku mati.

“ Tuhan menghargai keindahan hatimu, dengan keindahan sayap merah dan mawar ini, mawar yang mengingatkanmu akan nama dan suaranya. Kau diberi kesempatan menjelma kupu-kupu beberapa hari untuk menikmati keindahan mawar ini dan untuk melihat sesuatu yang perlu kau lihat terakhir kali, jika kau mau?”

Satu hal yang tidak pernah terpikirku adalah Tuhan menghargai rasa yang kuanggap sia-sia. Rasanya ingin sekali aku diam dan bersujud di bawah ArsyNya.

“ Aku berterima kasih untuk jawabanmu. Sepertinya aku tidak perlu melihat lagi apa yang perlu aku lihat di dunia ini. Aku sudah sangat ingin melihat wajah Tuhan. Bisakah kau membawaku sekarang?”

Blue Morpho diam. Menatapku dengan hangat.

“ Baiklah, tutup matamu.”

Aku menutup mata, bukan mata kupu-kupuku, tetapi mata ruhku. Bukan gelap yang muncul saat mata ruhku tertutup, melainkan terang kemilau yang terlihat. Putih. Putih. Dan putih.

***

…Ya badrotim, ya badrotim
Minhaza kulla kamali
Madza yu’a madza yu’a
Biru‘an ‘ulakama qalii…

Suara gadis kecil berjemari lentik yang sedang menanam bunga di taman itu terus mengalir terbawa angin, seolah mengiringi kepergian seseorang menuju Tuhannya.

“ Sudah siap menanam mawarnya, Nak?” Seorang wanita menghampiri gadis kecil itu. Mengusap rambutnya dan tersenyum memperlihatkan senyumnya yang indah.

Senyum dengan gigi gingsul yang dirindukan oleh seseorang.

Tinggalkan komentar